Topeng Suci Kekuasaan: Ketika Iman Diperdagangkan di Arena Politik
Dalam arena perebutan kekuasaan, agama sering kali menjadi instrumen paling ampuh sekaligus paling berbahaya. Bukan lagi tentang nilai-nilai spiritual atau tuntunan moral, melainkan tentang mobilisasi massa, legitimasi politis, dan alat untuk mencapai atau mempertahankan singgasana kekuasaan. Inilah saat ketika politik mempolitisasi agama.
Politikus cerdik memahami daya pikat agama. Dengan membungkus narasi politik dalam jubah kesucian, mengutip ayat-ayat di luar konteks, atau menjanjikan "surga" bagi pendukung dan "neraka" bagi penentang, mereka mampu menggerakkan emosi massa. Identitas keagamaan dipertajam, memecah belah masyarakat menjadi "kami" dan "mereka," menghapus nuansa perbedaan pendapat yang sehat dan menggantinya dengan permusuhan.
Dampaknya sangat merusak. Nilai-nilai luhur agama seperti kasih sayang, toleransi, dan keadilan, terdistorsi menjadi justifikasi bagi ambisi kekuasaan. Masyarakat terbelah, konflik sosial meruncing, dan kepercayaan terhadap institusi agama maupun politik terkikis. Agama kehilangan esensinya sebagai pembimbing moral dan spiritual, berubah menjadi alat tawar-menawar politik yang pragmatis.
Penting bagi kita semua untuk bersikap kritis. Mampu membedakan mana seruan moral yang tulus dan mana manuver politik yang berkedok agama. Mari kembalikan agama pada fitrahnya sebagai penuntun spiritual dan perekat persatuan, bukan sebagai kuda tunggangan yang diperdagangkan demi kepentingan kekuasaan semata.
