Timor: Kilas Balik Mobil Nasional, Antara Asa dan Fakta Pahit
Pada pertengahan dekade 1990-an, mimpi memiliki mobil nasional sendiri bagi Indonesia mencapai puncaknya dengan hadirnya Timor. Digagas oleh Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) melalui PT Timor Putra Nasional, proyek ini adalah simbol ambisi besar untuk kemandirian industri otomotif, sekaligus cerminan realitas yang kompleks.
Asa yang Membara: Kebanggaan dan Keterjangkauan
Harapan yang menyelimuti Timor begitu besar. Ia digadang-gadang sebagai ikon kebanggaan nasional, mampu menciptakan lapangan kerja, mentransfer teknologi, dan yang terpenting, menyediakan mobil terjangkau bagi rakyat Indonesia. Dengan nama Timor S515, mobil ini dijanjikan menjadi tonggak sejarah kemajuan industri bangsa, menawarkan harga yang jauh lebih kompetitif berkat berbagai fasilitas dan insentif dari pemerintah. Semangat "mobil buatan anak bangsa" begitu kencang digaungkan, memantik optimisme banyak pihak.
Fakta Pahit yang Menghadang: Rebadge, Politik, dan Krisis
Namun, realitasnya jauh dari harapan. Timor S515 sejatinya bukanlah produk orisinal Indonesia, melainkan Kia Sephia yang di-rebadge dari Korea Selatan. Tingkat kandungan lokalnya masih sangat minimal, jauh dari konsep kemandirian yang dijanjikan. Proyek ini juga disokong oleh kebijakan kontroversial berupa pembebasan bea masuk dan pajak barang mewah yang tidak diberikan kepada pabrikan lain.
Kebijakan istimewa ini segera memicu protes keras dari negara-negara produsen otomotif global seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, yang berujung pada gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mereka menuding Indonesia melanggar prinsip perdagangan bebas dan melakukan praktik diskriminatif.
Pukulan telak datang tak lama kemudian. Krisis Moneter Asia 1997-1998 mengguncang ekonomi Indonesia, diikuti oleh jatuhnya rezim Orde Baru. Dengan fondasi yang rapuh dan kontroversi yang melingkupinya, proyek mobil nasional Timor pun kandas di tengah jalan, mengakhiri produksinya secara efektif pada tahun 1998.
Pelajaran dari Sebuah Kisah
Meskipun berumur pendek, kisah Timor tetap menjadi catatan penting dalam sejarah industri Indonesia. Ia adalah pengingat bahwa membangun kemandirian industri membutuhkan lebih dari sekadar semangat dan ambisi. Ia membutuhkan strategi yang matang, fondasi teknologi yang kuat, ekosistem industri yang adil, serta bebas dari intervensi politik yang berlebihan. Timor menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana harapan besar bisa pupus oleh realitas implementasi yang kurang tepat dan kondisi eksternal yang tak terduga. Mimpi mobil nasional tetap hidup, namun dengan pendekatan yang jauh lebih matang dan berkelanjutan.
