Demokrasi Kita: Arena Sehat untuk Perbedaan atau Medan Polarisasi?
Demokrasi kita, dengan segala keragaman suku, agama, ras, dan golongan, selalu diuji kemampuannya menampung perbedaan secara sehat. Pertanyaan krusialnya: apakah ia menjadi wadah konstruktif untuk dialog, atau justru memperuncing perpecahan?
Secara ideal, demokrasi dirancang untuk menjadi arena sehat bagi perbedaan. Prinsip-prinsip seperti representasi, kebebasan berpendapat, musyawarah, dan supremasi hukum seharusnya memungkinkan setiap suara didengar, kepentingan diakomodasi melalui dialog, dan keputusan dicapai lewat kompromi yang adil, bukan dominasi mayoritas. Keberagaman dipandang sebagai kekuatan, bukan ancaman.
Namun, realitasnya tidak selalu mulus. Polarisasi identitas, narasi kebencian, penyebaran hoaks, dan politisasi isu-isu sensitif seringkali mengikis ruang dialog. Institusi demokrasi – mulai dari partai politik hingga lembaga peradilan – kadang gagal menjadi jembatan pemersatu, malah ikut terseret arus perpecahan. Ketika dialog buntu, dan rasa saling percaya menipis, perbedaan bisa berubah menjadi jurang pemisah yang berbahaya.
Jadi, mampukah demokrasi kita menampung perbedaan secara sehat? Jawabannya adalah: ya, jika. Kemampuannya sangat bergantung pada kesadaran kolektif. Dibutuhkan komitmen kuat dari seluruh elemen: pemerintah, politisi, tokoh masyarakat, dan terutama warga negara. Mempraktikkan toleransi, mengedepankan akal sehat dalam menyikapi informasi, menghargai proses demokrasi, dan menolak ekstremisme adalah kunci fundamental.
Demokrasi bukanlah sistem yang bekerja otomatis; ia adalah proyek bersama yang membutuhkan perawatan dan partisipasi aktif. Hanya dengan upaya berkelanjutan ini, perbedaan dapat menjadi melodi harmoni yang memperkaya, bukan sumbang perpecahan.
