Apakah Politik Harus Selalu Hitam dan Putih?

Politik: Bukan Sekadar Hitam dan Putih

Seringkali kita melihat politik digambarkan sebagai pertarungan antara dua kubu yang jelas: baik dan buruk, benar dan salah, hitam dan putih. Pandangan ini, meskipun menawarkan kesederhanaan, seringkali menyembunyikan kompleksitas sejati dan justru menghambat kemajuan.

Kemudahan dalam mengidentifikasi ‘pihak kita’ dan ‘pihak mereka’ memang menggoda. Ini memberikan rasa kepastian dan identitas di tengah hiruk pikuk informasi. Namun, pendekatan hitam-putih ini cenderung mengabaikan nuansa, mematikan dialog, dan memperdalam polarisasi. Isu-isu publik yang kompleks – seperti ekonomi, lingkungan, atau pendidikan – jarang bisa diselesaikan dengan pilihan ekstrem tanpa kompromi.

Kenyataannya, politik adalah arena di mana berbagai kepentingan, nilai, dan perspektif saling berinteraksi. Ada spektrum abu-abu yang luas di antara dua kutub ekstrem. Mencari solusi yang efektif seringkali membutuhkan kemampuan untuk melihat berbagai sisi, bernegosiasi, dan menemukan titik temu yang pragmatis, bukan sekadar memaksakan kehendak ideologis. Politik yang sehat adalah tentang seni kemungkinan, bukan dogma yang kaku.

Jadi, apakah politik harus selalu hitam dan putih? Jawabannya tegas: tidak. Menerima bahwa politik adalah domain yang penuh nuansa dan kompleksitas adalah langkah pertama menuju diskusi yang lebih konstruktif dan hasil yang lebih baik bagi masyarakat. Mari beranjak dari dikotomi yang memecah belah menuju pencarian solusi bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *