Jurang Polarisasi: Mengikis Fondasi Persatuan Nasional
Polarisasi politik bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan fenomena di mana masyarakat terbagi menjadi kubu-kubu yang saling bertentangan secara ekstrem, seringkali disertai ketidakpercayaan dan bahkan permusuhan. Dampak dari kondisi ini terhadap persatuan nasional sangatlah serius dan mengancam fondasi kebersamaan bangsa.
Bagaimana Polarisasi Mengikis Persatuan?
- Menciptakan "Kami" vs. "Mereka": Polarisasi mengubah perbedaan pandangan menjadi identitas kelompok yang kaku. Empati terhadap pihak lain menipis, digantikan oleh prasangka dan stigmatisasi. Ini membangun tembok di antara warga negara, bukan jembatan.
- Erosi Kepercayaan: Ketidakpercayaan tidak hanya tumbuh antar-kelompok masyarakat, tetapi juga terhadap institusi negara dan media yang dianggap berpihak. Ketika kepercayaan terkikis, sulit untuk mencapai konsensus atau menerima hasil keputusan bersama.
- Menghambat Penyelesaian Masalah: Dalam lingkungan yang terpolarisasi, setiap kebijakan atau gagasan seringkali dinilai dari lensa partisan, bukan dari manfaatnya bagi bangsa. Akibatnya, isu-isu krusial sulit diselesaikan karena selalu ada penolakan dari kubu yang berlawanan, menghambat kemajuan.
- Memperlemah Kohesi Sosial: Ketegangan politik dapat merembet ke ranah sosial, memecah belah komunitas, bahkan keluarga. Ruang-ruang dialog menyempit, digantikan oleh debat kusir yang tidak produktif, mengancam kerukunan di akar rumput.
Merajut Kembali Rajutan Kebangsaan
Polarisasi politik adalah ancaman senyap yang secara perlahan merobek rajutan persatuan nasional. Untuk menghadapinya, diperlukan kesadaran kolektif bahwa kepentingan bangsa jauh di atas kepentingan kelompok. Membangun kembali jembatan komunikasi, mengedepankan dialog, toleransi, dan mencari titik temu adalah langkah krusial. Hanya dengan kembali pada nilai-nilai persatuan, kita bisa memastikan fondasi kebersamaan bangsa tetap kokoh.
