Debat Cawapres & Caleg: Ujian Substansi di Tengah Gempuran Sensasi
Debat calon wakil presiden dan calon legislatif adalah momen krusial dalam setiap kontestasi politik. Diharapkan menjadi panggung adu gagasan, visi, dan misi, tak jarang perdebatan ini justru terjebak dalam gimik dan drama panggung yang mengaburkan esensi. Lantas, mana yang lebih dominan: panggung gagasan atau sekadar gimik?
Panggung Gagasan: Harapan yang Terkadang Terpenuhi
Idealnya, debat adalah ajang bagi para kandidat untuk memaparkan solusi konkret atas permasalahan bangsa dan daerah. Mulai dari strategi ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, hingga isu lingkungan dan kesejahteraan rakyat. Ini adalah kesempatan emas bagi pemilih untuk mengukur kedalaman pemahaman, integritas, dan kapasitas kepemimpinan mereka. Kandidat yang mampu menyajikan data, argumentasi logis, dan program terukur akan dinilai memiliki substansi dan kesiapan untuk memimpin. Debat yang berkualitas dapat menjadi sarana edukasi politik yang mencerahkan, membantu pemilih membuat keputusan berdasarkan akal sehat, bukan sekadar emosi.
Gimik: Godaan Popularitas di Atas Substansi
Sayangnya, realitas seringkali berbeda. Alih-alih adu argumen yang substantif, debat bisa berubah menjadi ajang serangan personal, retorika kosong, janji-janji manis tanpa dasar yang jelas, atau bahkan sekadar pencarian sensasi untuk menarik perhatian media dan viral di media sosial. Pertanyaan yang menjebak, intonasi dramatis, hingga ekspresi wajah yang diatur kerap menjadi bagian dari strategi gimik untuk menciptakan kesan, bukan pemahaman. Fokus bergeser dari solusi terhadap masalah rakyat menjadi popularitas sesaat atau upaya menjatuhkan lawan.
Menemukan Keseimbangan, Menuntut Kualitas
Perdebatan acap kali menjadi medan pertempuran antara harapan pemilih akan gagasan brilian dan godaan kandidat untuk tampil sepopuler mungkin. Peran moderator, panelis, serta media massa sangat vital dalam menjaga fokus debat agar tetap pada substansi, meminimalkan ruang bagi gimik yang tidak relevan.
Sebagai pemilih cerdas, tugas kita adalah melihat lebih jauh dari panggung gemerlap dan hiruk-pikuk retorika. Mari cermati setiap program, tantang setiap janji, dan tuntut penjelasan yang mendalam. Kualitas demokrasi kita sangat bergantung pada kemampuan kita membedakan mana gagasan murni dan mana sekadar gimik politik. Hanya dengan begitu, debat akan benar-benar menjadi panggung gagasan yang mencerahkan, bukan sekadar drama panggung yang menghibur namun kosong.
