Ketika Politik Menjadi Alat untuk Memenjarakan Lawan

Jeruji Kekuasaan: Kala Politik Memenjarakan Lawan

Politik seharusnya menjadi arena debat gagasan dan kompetisi program, bukan panggung untuk saling menjatuhkan. Namun, tak jarang politik berubah menjadi alat bengis: digunakan untuk memenjarakan lawan. Ini adalah fenomena berbahaya yang mengancam fondasi demokrasi.

Ketika politik menjadi alat penindasan, instrumen hukum dan penegakan keadilan dibajak. Tuduhan direkayasa, kasus dipolitisasi, atau hukum diterapkan secara selektif hanya kepada pihak oposisi, sementara pendukung rezim cenderung luput. Tujuan utamanya jelas: membungkam kritik, menghilangkan ancaman politik, dan melanggengkan kekuasaan.

Dampaknya sangat merusak. Demokrasi terkikis karena ruang kritik dan perbedaan pendapat disempitkan. Masyarakat hidup dalam ketakutan, kebebasan berekspresi mati, dan kepercayaan publik terhadap institusi hukum runtuh. Ini menciptakan lingkungan di mana kebenaran dimanipulasi, dan keadilan menjadi komoditas politik.

Fenomena "jeruji kekuasaan" ini adalah alarm bahaya bagi tatanan demokrasi. Penting bagi setiap warga negara, media, dan lembaga masyarakat sipil untuk menjaga integritas hukum dan menuntut akuntabilitas, agar politik tetap menjadi alat pembangunan, bukan penindasan. Hanya dengan kewaspadaan kolektif, kita bisa memastikan bahwa kursi kekuasaan tidak berubah menjadi sel penjara bagi mereka yang berani berbeda.

Exit mobile version