Politik dan Ego: Kisah Abadi yang Tak Terpisahkan
Politik seringkali dipandang sebagai arena pengabdian publik, tempat para pemimpin berjuang demi kemaslahatan bersama. Namun, realitasnya, ia tak pernah lepas dari bayang-bayang kepentingan pribadi. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan inheren dalam sifat dasar manusia dan sistem yang dibangunnya.
Mengapa Demikian?
-
Sifat Dasar Manusia: Manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh keinginan – untuk bertahan hidup, mendapatkan pengakuan, kekuasaan, keamanan, atau bahkan sekadar mencapai tujuan yang diyakininya benar. Ketika seseorang memasuki arena politik, motivasi ini tidak hilang. Baik itu keinginan untuk mewujudkan visi pribadi, mengamankan posisi, memperjuangkan kelompoknya, atau bahkan meninggalkan warisan positif, semua berakar pada ‘keinginan saya’.
-
Motivasi Politik: Tidak ada yang memasuki politik tanpa tujuan. Tujuan itu bisa beragam: dari hasrat tulus untuk memperbaiki masyarakat (melalui lensanya sendiri), hingga ambisi kekuasaan, kekayaan, atau status sosial. Setiap keputusan, setiap aliansi, dan setiap janji kampanye seringkali memiliki lapisan kepentingan pribadi atau kelompok di baliknya.
-
Dinamika Kekuasaan dan Sumber Daya: Politik adalah tentang alokasi sumber daya dan penentuan siapa mendapatkan apa. Dalam proses tawar-menawar ini, setiap aktor politik akan cenderung memprioritaskan kepentingan yang paling dekat dengannya – entah itu daerah pemilihannya, partainya, kelompok ekonominya, atau bahkan keluarga dan teman-temannya. Seorang politisi mungkin mendukung proyek di daerah pemilihannya untuk memastikan re-elektabilitasnya (kepentingan pribadi politik), atau mendorong regulasi yang menguntungkan sektor bisnisnya (kepentingan pribadi ekonomi).
Bukan Selalu Buruk, Tapi Selalu Ada
Penting untuk dicatat bahwa "kepentingan pribadi" tidak selalu berarti negatif atau korup. Seorang pemimpin yang ingin meninggalkan warisan baik atau memastikan kesejahteraan keluarganya juga digerakkan oleh kepentingan pribadi. Tantangannya adalah ketika kepentingan pribadi tersebut berbenturan dengan kepentingan umum secara merugikan, atau ketika digunakan untuk tujuan yang sempit dan merusak.
Maka, politik dan kepentingan pribadi adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Bukan tentang menghilangkannya — karena itu mustahil — melainkan tentang bagaimana kita membangun sistem pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas yang kuat, agar kepentingan pribadi tetap terkendali dan sebisa mungkin selaras dengan kemaslahatan bersama.
