Keluarga: Benteng Tangguh di Pusaran Kebijakan Negara
Keluarga adalah fondasi masyarakat, namun seringkali keberadaannya terombang-ambing oleh dinamika kebijakan negara. Politik, yang sejatinya bertujuan menyejahterakan rakyat, tak jarang justru menciptakan tantangan baru bagi ketahanan keluarga. Lalu, bagaimana keluarga mampu bertahan di tengah arus kebijakan yang tak menentu?
Kebijakan negara, baik di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun sosial, memiliki efek langsung terhadap unit terkecil ini. Subsidi yang dicabut, pajak yang meningkat, perubahan kurikulum pendidikan, hingga sistem jaminan kesehatan yang kompleks, semuanya dapat menjadi pendorong kesejahteraan atau justru sumber tekanan baru. Misalnya, kebijakan ekonomi yang fluktuatif bisa mengikis daya beli, memaksa orang tua bekerja lebih keras, dan mengurangi waktu berkualitas dengan anak. Kebijakan sosial yang kurang responsif pun dapat memperparah kerentanan keluarga di hadapan masalah sosial modern.
Di tengah tantangan ini, ketahanan keluarga menjadi krusial. Bukan berarti keluarga kebal masalah, melainkan kemampuan untuk beradaptasi, bangkit, dan menemukan solusi kolektif saat menghadapi tekanan. Ketahanan ini didukung oleh komunikasi efektif, nilai-nilai yang kuat, dukungan emosional antar anggota, serta kemampuan mengelola sumber daya yang ada. Solidaritas komunitas dan lingkungan sosial juga berperan penting sebagai jaring pengaman saat keluarga membutuhkan uluran tangan.
Politik dan kebijakan adalah realitas yang tak terhindarkan bagi keluarga. Namun, dengan fondasi yang kuat dan kemampuan adaptasi yang tinggi, keluarga mampu menjadi benteng yang kokoh. Penting bagi pembuat kebijakan untuk memahami dampak riil kebijakan mereka terhadap unit terkecil namun terpenting dalam masyarakat ini, karena ketahanan keluarga adalah cerminan kekuatan bangsa.
