Jejak Populis: Demokrasi di Persimpangan Jalan di Negara Berkembang
Di tengah gejolak sosial dan ekonomi, politik populis kian menemukan lahan subur di negara-negara berkembang. Ini adalah strategi politik yang mengklaim mewakili "rakyat biasa" melawan "elite" yang korup atau mapan, seringkali dipimpin oleh figur karismatik yang menjanjikan solusi instan atas masalah kompleks.
Mengapa Populisme Tumbuh Subur?
Akar populisme di negara berkembang seringkali bersemi dari ketidakpuasan mendalam: kesenjangan ekonomi yang ekstrem, korupsi endemik, lemahnya institusi negara, dan kegagalan pemerintah tradisional dalam memenuhi kebutuhan dasar. Pemimpin populis menawarkan narasi sederhana namun kuat, menyalahkan pihak tertentu dan menjanjikan pemulihan kedaulatan rakyat.
Ciri Khas dan Modus Operandi
Ciri khasnya adalah kehadiran pemimpin karismatik yang membangun hubungan langsung dengan massa, seringkali melalui retorika emosional dan penggunaan media sosial. Mereka menggemakan sentimen anti-kemapanan, mereduksi masalah kompleks menjadi pertarungan moral antara ‘yang baik’ dan ‘yang jahat’, serta menjanjikan kebijakan yang terasa intuitif dan memihak rakyat, meskipun seringkali tidak berkelanjutan atau merusak tatanan yang ada.
Dampak pada Demokrasi dan Pembangunan
Dampak politik populis di negara berkembang bisa bervariasi, namun seringkali membawa konsekuensi serius bagi demokrasi. Erosi lembaga demokrasi seperti peradilan independen dan pers bebas, polarisasi masyarakat yang tajam, serta kebijakan ekonomi yang tidak berkelanjutan adalah beberapa dampaknya. Dalam banyak kasus, populisme juga berujung pada konsolidasi kekuasaan di tangan satu individu, mengancam checks and balances dan berpotensi mengarah pada otoritarianisme. Pembangunan jangka panjang bisa terhambat karena fokus pada janji-janji jangka pendek dan pengabaian tata kelola yang baik.
Kesimpulan
Studi kasus politik populis di negara berkembang menunjukkan bahwa fenomena ini lebih dari sekadar respons terhadap krisis; ia adalah cerminan dari kerapuhan sistem politik dan sosial. Memahami akar dan dampaknya krusial untuk membangun resiliensi demokrasi, memperkuat institusi, dan memastikan suara rakyat diterjemahkan menjadi tata kelola yang bertanggung jawab, bukan sekadar janji kosong yang menggerus fondasi masa depan.
