Ketika Politik Dijadikan Komoditas Hiburan oleh Media Arus Utama

Arena Politik: Ketika Demokrasi Dijual Sebagai Hiburan

Dulu, politik adalah ruang serius untuk diskursus kebijakan, debat ideologi, dan pencarian solusi. Kini, di tangan media arus utama, ia seringkali bermetamorfosis menjadi tontonan, sebuah komoditas hiburan yang dijual demi rating, klik, dan daya tarik iklan.

Fenomena ini mengubah arena politik menjadi panggung drama. Konflik personal politisi lebih ditonjolkan ketimbang esensi undang-undang. Perseteruan retoris disajikan bak episode sinetron, lengkap dengan antagonis dan protagonis versi media. Berita politik tak lagi sekadar informasi, melainkan narasi yang dirancang untuk memancing emosi dan keterlibatan superfisial, mirip reality show.

Dampaknya sangat merugikan. Isu-isu krusial yang seharusnya memerlukan pemikiran mendalam tereduksi menjadi soundbite yang sensasional. Publik didorong untuk mengikuti "drama" ketimbang memahami substansi. Ini mengikis nalar kritis, memecah belah opini berdasarkan kubu, dan menciptakan warga negara yang lebih tertarik pada gosip politik daripada partisipasi yang bermakna. Demokrasi terancam kehilangan marwahnya, digantikan oleh ilusi keterlibatan yang didorong oleh hasrat akan hiburan semata.

Penting bagi media untuk kembali pada fungsi edukasi dan informasi yang bertanggung jawab, serta bagi publik untuk lebih selektif dalam mengonsumsi berita, agar politik dapat kembali pada tujuan mulianya: membangun bangsa, bukan sekadar menghibur massa.

Exit mobile version